Wawancara dengan Buletin el-Husnami

Menurut Anda, bagaimana perkembangan intelektual Masisir dilihat dari standar akademisnya maupun non-akademis? Alasannya?

Sebelum memberikan penilaian terhadap perkembangan intelektual Masisir, sesungguhnya kita perlu memahami bahwa ada banyak variabel yang bisa dipergunakan untuk mengukur hal tersebut. Pertama, daya beli buku dan bacanya sekaligus. Kedua, penguasaan wawasan secara menyeluruh tanpa ada pemilahan. Ketiga, kepedulian dan peran serta aktif terhadap aktivitas keilmuan. Keempat, manajemen waktu. Kelima, prestasi akademik.

Kelima variabel inilah yang dapat kita pakai untuk mengukur sejauhmanakah kualitas
intelektual Masisir, baik dalam aspek akademik atau non akademik. Kita tentu tidak mengharapkan, Masisir hanya mengalami peningkatan sisi akademisnya, tapi melorot dalam ranah non akademiknya. Atau sebaliknya. Adalah tugas kita bersama untuk bahu-membahu bersinergi mewujudkan Masisir yang kualitatif dalam kedua aspek tadi.

Kembali ke permasalahan yang ditanyakan, boleh dibilang satu tahun ini, Masisir mengalami peningkatan yang signifikan dalam aspek akademis. Sebagaimana data yang dilansir oleh pihak Atdikbud, prosentase kelulusan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Jika pada tahun sebelumnya (2006/2007) angka kelulusan hanya mencapai 54 %, tahun ini naik cukup tinggi menjadi 67%. Angka ini jauh membanggakan bila dibanding pada tahun 2004/ 2005.

Tapi pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah, apakah angka yang bagus itu juga diimbangi dalam ranah non akademik? Kita belum tahu secara pasti, bagaimana keberlangsungan budaya membaca di kalangan Masisir yang notabene merupakan mahasiswa. Kemudian, bagaimana dengan penguasaan Masisir atas permasalahan yang terkait dengan bidang keilmuan yang digelutinya.

Dengan mempertimbangkan variabel-variabel di atas, saya menilai, Masisir memang mengalami peningkatan yang signifikan dalam ranah akademik. Peningkatan ini memang banyak didukung oleh pihak pemerintah, dalam hal ini adalah ATDIKBUD KBRI Cairo. Tapi saya tidak, tepatnya, belum melihat peningkatan dalam wilayah non akademik. Meski sebagian kalangan menganggap dinamika intelektual Masisir sebagai manifestasi ranah non akademik juga mengalami peningkatan yang signifikan. Menurut kalangan ini, keberhasilan Masisir dalam memunculkan beberapa penulis adalah salah satu bukti faktual. Tapi, sekali lagi saya belum sepakat dengan asusmsi ini. Secara umum, tradisi keilmuan Masisir masih dalam tahap merangkak. Masih tertatih-tatih! Budaya baca buku secara serius hanya terjadi menjelang ujian atau temporal dan juga bukan budaya komunal. Apresiasi atas acara keilmuan juga sangat minim.


Apa saja kendala internal dan eksternal bagi kelangsungan peningkatan intelektual Masisir, secara akademis maupun non-akademis?

Kendala internal yang paling pokok, bagi saya, adalah munculnya disorientasi. Banyak Masisir yang mengalami ketidakjelasan orientasi pembelajarannya di al-Azhar. Sangat mungkin, mereka gagal memegang komitmen atas cita-citanya semula sebelum sampai di sini. Bahkan, beberapa kawan, belajar di al-Azhar itu hanya karena ikut-ikutan. Bukan pilihan sendiri. Ada juga yang karena gengsi. Ini kan problematis sekali. Sedari awal mereka sudah gamang. Akibatnya, mereka tak bisa serius dan konsen dengan sepenuh hati. Meski tentu saja banyak di antara kawan-kawan yang menjadikan al-Azhar sebagai pilihan.

Kendala internal kedua adalah kemampuan Masisir sendiri. Baik kemampuan penguasaan bahasa Arab ataupun penguasaan materi. Di sini saya tidak sedang meremehkan kemampuan kawan-kawan Masisir dalam beradaptasi dengan kurikulum al-Azhar. Tapi pada kenyataannya, banyak kawan yang masih gagap dengan materi yang diajarkan oleh pihak al-Azhar. Memang, pada kenyataannya ada beberapa materi yang baru dijumpai disini. Bila kasusnya seperti ini, solusi praktis dan pragmatis adalah dengan cara menghapalkan. Masalah paham atau tidak itu urusan belakang. Apalagi kita sering dicekoki pameo “kalau mau lulus dari al-Azhar, cukup dengan modal hapalan.”

Faktor eksternal yang paling penting adalah eksklusivisme yang menjangkiti Masisir. Sebagai mahasiswa asing, kita sudah mengambil jarak (bersikap ekslusif) dari orang Mesir. Kita lebih suka hidup dalam komunitas bangsa sendiri. Dengan mengambil jarak dari masyarakat pribumi (Mesir), secara tidak langsung akan memotong akses kita dalam menerima dinamika intelektual di dunia Arab. Kemampuan berbahasa kita juga melemah. Ironisnya, di kalangan sendiri, kita pun masih terjebak oleh perilaku eksklusivisme. Kita tersekat oleh kekeluargaan, ormas-afiliatif dan yang paling tragis oleh kepentingan politik! Ketika batas-batas bernama ormas sudah mencair, kini kita malah menemukan pagar baru berjuluk “kepentingan politik”.

Determinan kedua, kalau boleh saya menunjuk adalah perilaku hedonisme. Sungguh menyesakkan, kalangan Masisir lebih sibuk membicarakan handphone tipe teranyar tapi tidak paham buku baru apa yang ada di maktabah-maktabah. Kawan-kawan berlomba-lomba meng-up grade komputernya sembari berusaha keras berlangganan internet (ADSL) dengan kapasitas tinggi, namun di kamarnya, buku-buku yang bertumpuk dibiarkan berdebu. Atau malah tak peduli, bahwa dia tak punya buku sama sekali. Ini bukan karakter mahasiswa!

Terkait dengan MABA 2008 yang akan datang, apa saja strategi yang diterapkan PCINU secara khusus terkait peningkatan gairah intelektual mereka sekaligus aplikasinya seperti produktivitas dalam berkarya atau loyalitas kepada bangsa dan negara?

PCI NU Mesir punya banyak lembaga yang dapat menampung semua kecenderungan kawan-kawan baru. Ada lembaga yang konsen dengan pemikiran, kebudayaan, keagamaan, jurnalisme dan sosial kemasyarakatan. Kawan-kawan baru bisa masuk di lembaga yang sesuai dengan minat dan kecenderungannya masing-masing dan akan dibimbing dan dikawal oleh Lembaga Kaderisasi Nahdlatul Ulama (LKNU).

Satu yang ingin saya tegaskan di sini, NU secara lembaga tidak terkait dengan gerakan liberalisme. Tapi NU, dalam hal ini PCINU Mesir, berkewajiban menampung semua kecenderungan pemikiran yang ada. Ini dimaksudkan sebagai upaya mendorong terciptanya dinamika intelektual yang kontinyu. PCI NU Mesir sadar, bahwa mahasiswa dengan pola pikirnya yang kritis, tidak bisa ditundukkan oleh satu pemikiran yang seragam. Ini yang membedakan PCINU dengan yang lainnya.PCINU juga menaruh perhatian terhadap wilayah keagamaan yang dimanfestasikan dalam kajian tasawuf, permasalahan fikih klasik ataupun kontemporer dan lain sebagainya.

Dengan tetap memberikan kesempatan tumbuh dan berkembang kepada daya kritis dan dinamika intelektual, maka upaya PCINU Mesir untuk berperan aktif dalam menciptakan sosok yang loyal, berdedikasi dan produktif akan menjadi lebih mudah. Fakta ini bukan berarti menafikan bimbingan dan arahan dari kalangan orang tua. Sebab dengan bimbingan dan panduan dari merekalah, perkembangan intelektual dapat berjalan dinamis dan terarah; tidak liar.

Menurut Anda, siapa saja yang mempunyai andil besar dalam pembentukan nalar intelektual yang produktif dan inovatif?

Bagi saya, yang punya andil besar dalam pembentukan nalar intelektual seseorang jelas dirinya sendiri. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk bersikap kritis namun tidak keblabasan, obyektif dan rasional. Saya mempunyai keyakinan, mahasiswa yang mempunyai kualitas intelektual inovatif dan produktif tidak akan terlahir dari lingkungan yang jumud, eksklusif dan mensyaratkan keseragaman dalam pemikiran.

Mahasiswa adalah kalangan yang tengah mencari kedewasaan dalam berpikir dengan bermodalkan daya kritis. Jika demikian, tak bijak bila mahasiswa mengalami banyak pengekangan dari yang lebih senior hanya karena daya kritisnya yang dianggap berlebihan.

Harapan saya untuk kawan-kawan baru, mereka tak boleh dikotori oleh intrik dan percikan politik yang penuh konflik. Biarkan kawan-kawan baru belajar mengharmonisasikan antara idealisme dan realitas yang dihadapi. Dan kembalikan kawan-kawan baru dalam fitrahnya yang genial, sebagai generasi pembelajar. Generasi yang bebas mempelajari apapun dengan tetap ada kontrol yang tidak dogmatik.

Comments

0 Responses to "Wawancara dengan Buletin el-Husnami"

Post a Comment

Find

Public Sphere



Visitors