Seperti foto yang yang kamu antarkan, begitulah wajah kampung kita yang telah berubah. Bukan lagi batang pohon kelapa yang menjulang. Ia telah lama tergantikan dengan gedung bertingkat yang angkuh.
Bahkan pohon kedondong, sebaris rumpun pohon bambu harus rela tergusur oleh kandang mobil. Dan langit di kampung kita tentu kian panas. Serasa percik intrik memantul ke atas jauh, menembus cakrawala.
Tak ada lagi petak umpet di bawah temaram purnama sembari berlindung di balik rerumpun bambu. Kita serasa di kota bukan? Meski ini adalah kampung, di mana sepuluh tahun yang lalu akan mudah kita dapatkan jambu batu dan jambu air berbuah lebat.
Semua telah tumbang; tergantikan keserakahan dan kedengkian.
Sungguh, surau yang kini demikian gagahnya, nampak merana dan bermuram durja. Tak ada suara lamat-lamat canda tawa anak-anak kecil yang meningkahi ayat-ayat suci. Anak-anak kecil, adik kita memindahkan taman bermainnya ke sebuah kotak kaca kecil. Tempat mengaji menjadi lengang dan sepi.
A nothing-ness
“Lord, make me an instrument of your peace; where there is hatred, let me sow love; where there is injury, pardon; where there is doubt, faith; where there is despair, hope; where there is darkness, light; and where there is sadness, joy.” - St. Francis of Assisi-
Post a Comment