Sebuah Refleksi Ketika Masisir Terhegemoni

Bila ditamsilkan, sejarah mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) serupa sebuah epos panjang yang sarat dengan kenangan. Ada kisah tentang perjuangan yang heroik. Juga memberikan kisah-kisah getir mengenai ketabahan. Mulanya, dulu adalah sekumpulan kecil yang hanya berjumlah 12 orang. Mereka bersepakat dalam satu ikatan. Kini, angka belasan itu telah menembus ribuan. Ada hampir 5000 kaum pelajar di sini. Dulu bernama Jami’ah Setia Pelajar, sekarang kita menyebutnya sebagai PPMI.

Jika menganut gagasan permanensi -non permanensinya Adonis, perjalanan Masisir sebagai sebuah komunitas boleh saja berubah. Beralih rupa layaknya sejarah organisasi lain. Sebab selalu saja ada hal-hal yang mutahawwil dalam kehidupan. Bisa dalam aspek ideologis maupun mekanisme dan bentuknya. Meski demikian, sejarah kaum pelajar juga tetap meniscayakan aspek-aspek yang tsâbit. Harus ada idealisme yang mesti tetap tertanam kuat.

Dalam konteks membincang idealisme kaum pelajar, penulis mencoba menganalisis pelbagai fenomena yang tengah menimpa Masisir.

Arah Idealisme Masisir; Kemana?
Setidaknya, jika merujuk kepada mazhab Fenomenologi yang dimatangkan oleh Edmund Husserl, ada banyak fenomena dalam tubuh Masisir yang dapat kita baca. Pertama, disorientasi Masisir. Beberapa individu, untuk sungkan menyebutnya sebagian besar Masisir, seperti terlupa dengan kewajiban asasinya. Alih-alih melakukan prioritas terhadap peningkatan dan pengembangan wawasan intelektualitasnya, kita masih asyik menenggelamkan diri dalam hal-hal yang periferal.

Penulis tentu tidak bermaksud menghakimi dengan meniadakan pluralitas kecenderungan dan keberagaman latar belakang sebuah komunitas besar yang bernama Masisir ini. Sebab, selain mengkhianati prinsip-prinsip mazhab Fenomenologi Husserl yang bertujuan mencari eidos (esensi) dengan cara membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presupposition), penghakiman atas pluralitas juga merupakan sebentuk pengingkaran terhadap eksistensi tsawâbit. Bagi penulis, pluralitas adalah tsawâbit (permanen). Sedang mekanisme penghormatannya merupakan aspek mutahawwil.

Karenanya, Masisir tak bisa disalahkan jika terus memelihara pluralitas yang ada. Terlebih, tentu saja, keberagaman tak dapat diberangus dengan alasan apapun. Namun yang menjadi persoalan sekarang, di antara sekian banyak kecenderungan tersebut, aspek mana yang hendak menjadi prioritas. Di sinilah Masisir harus mengingat atau bahkan mengidentifikasi lagi aspek tsawâbit dan mutahawwil-nya.

Hasrat untuk mengaktualisasikan potensi diri masing-masing Masisir harus dijamin. Sebagai misal, minat untuk mengembangkan bakat musik, leadership dan bahkan politik sekaligus. Hanya saja, hal-hal yang komplementer tersebut harus didudukkan secara subordinatif di bawah aspek primer bernama pembelajaran. Masisir harus sadar bahwa peningkatan sumber daya intelektualitas menuntut dua bukti riil sekaligus, kesuksesan akademik dan keluasan wawasan.

Meninggalkan salah satunya tentu sebuah ketimpangan dan perilaku tak bijak. Hanya sayang, sikap semacam ini yang pada akhirnya digandrungi oleh sebagian besar Masisir. Sebagian dari kita begitu menjulang kemampuan akademiknya, tapi redup dalam pengayaan wawasan. Sebagian lagi lebih nampak terlihat sebagai seorang aktivis, baik partai politik atau organisasi yang menjamur di Kairo ketimbang seorang mahasiswa.

Yang parah, perilaku keseharian kita lebih kerap terlihat sebagai politikus daripada orang terpelajar. Atau lebih nampak sebagai pebisnis ketimbang kaum akademik. Meski demikian, fenomena tersebut tidak mampu menutupi beberapa pengecualian di mana beberapa 'oknum' Masisir yang sukses mendamaikan keduanya.

Dari sinilah, segenap elemen Masisir harus mau bersepakat bahwa pengembangan wawasan intelektualitas seyogianya berada di atas apapun. Aktivitas-aktivitas 'pinggiran' yang mutahawwil seperti tersebut di atas tak boleh memojokkan kemapanan tsawâbit bertajuk pembelajaran. Kesepakatan ini menjadi perlu agar arah idealisme Masisir berjalan dan terkonstruk dengan baik.

Hegemoni yang Tak Terlawan?
Faktanya, idealisme tersebut seperti kerap terlupakan. Ini yang sesungguhnya sangat miris. Komunitas yang demikian besar secara kuantitas, ternyata belum mumpuni secara kualitas. Kemampuan tulis, baik dalam bahasa asing atau bahasa ibu relatif minim, untuk tidak menyebutnya dalam ambang batas mengkhawatirkan. Belum lagi kapabilitas olah wicara memakai bahasa asing.

Agar tidak selalu terjebak dalam sikap saling menyalahkan, Masisir sudah saatnya mempunyai konsensus untuk bersepakat memaksimalkan segenap prasarana yang ada sebagai media untuk mempertegas eksistensi idealisme Masisir.

Pertanyaannya sekarang, adakah fasilitas yang tersedia sudah termanfaatkan dengan baik? Maka, biarkan penulis menjawab pertanyaan tersebut dengan memakai pendekatan fenomenologis. Masih dengan merujuk pada fenomenologi ala Cornelis A. van Peursen sebagai sebuah rigorous science, individu Masisir, juga aspek-aspek parsial Masisir merupakan obyek yang tak tunggal. Ia mewakili kelompok obyek lain dalam dunia obyek sejenis yang lebih luas yang nir-kasat mata.

Contoh teraktual, adalah kekecewaan beberapa kawan Masisir, termasuk di dalamnya adalah penulis sendiri, terhadap kinerja milist ternama di Masisir, Info PMIK. Alih-alih, milist ini lebih ‘bersemangat’ dalam menampung parade kampanye seluruh partai politik yang ada di Masisir ketimbang menjalankan tugas asasinya sebagai pengawal naluri pembelajar Masisir. Informasi tentang literatur tertutup oleh bejibun surel bermaterikan kampanye. Alur diskusi ilmiah kerap terbelok dan berujung menjadi perang ideologi. Ini tentu mengecewakan! Dan lantas, prasangka disnetralitas milist tersebut menjadi keyakinan sebagian kawan-kawan.

Dengan mengimani tesis Cornelis A. van Peursen, hal yang nir-kasat mata dalam fenomena kekecewaan beberapa pihak terhadap milist ternama itu melahirkan asumsi, milist tersebut telah terkooptasi beberapa kepentingan pihak tertentu. Ada kekuatan yang dominan dan menghegemoni pengelola milist sehingga tanpa sadar terpasung dalam kepentingan itu. Muncul perasaan terdzalimi dari pihak lain, meski itu masih dapat dengan mudah dibantah dengan pelbagai apologi.

Sesungguhnya, suara ketidakpuasan itu bermaksud satu: milist ternama kembali ke tujuan awalnya, menyediakan lahan subur bagi benih-benih intelektualitas yang toleran, terbuka dan demokratis. Bukan moderasi yang berdasar fanatisme sempit.[]

Comments

0 Responses to "Sebuah Refleksi Ketika Masisir Terhegemoni"

Post a Comment

Find

Public Sphere



Visitors