Sarjana Muslim Nusantara, How Low Can You Go?

Di pertengahan bulan lalu, setelah sekian lama absen, saya berkesempatan menghadiri kembali acara nadwah yang diselenggarakan oleh al-Jam'iyyah al-Falsafiyyah al-Mishriyyah. Beberapa teguran dari Hassan Hanafi memaksa saya berfikir keras untuk membagi waktu agar dapat menjenguk acara bulanan tersebut. Tentu, keberadaan saya hanyalah pelengkap semata. Tapi teguran dari Hassan Hanafi, bagi saya, merupakan manifestasi sifat kebapakan beliau.Dengan tegurannya, dia sejatinya sedang mendorong generasi muda untuk mempunyai semangat baja dalam mengejar ilmu pengetahuan.


Dalam tulisan sederhana ini, saya tak hendak mereview kembali materi yang disampaikan dalam nadwah tersebut. Saya ingat benar, selepas nadwah, saya menyempatkan diri berbasa-basi dengan Hassan Hanafi untuk sekadar berjabat tangan dan menanyakan kabar. Tak dinyana, diakhir pembicaraan singkat kami, dia menanyakan, apakah kawan-kawan Lakpesdam berencana menerbitkan hasil diskusi dalam bahasa Arab.

Bagi yang pernah berinteraksi dengan orang Mesir, pertanyaan tersebut tentu sebentuk ekspresi mujamalah semata. Tapi saya memaknainya jauh lebih dalam dari itu. Dalam benak saya, Hassan Hanafi tengah melakukan kritik terhadap peran intelektual Indonesia dalam pentas dunia. Utamanya, tentang produktivitas generasi baru sarjana Indonesia.

Secara khusus, ketika dalam kesempatan meminta rekomendasi dari Hassan Hanafi, Hassan Hanafi menitipkan harapan agar kelak generasi baru sarjana Indonesia lebih intens mengenalkan gagasan dan pemikirannya ke dunia Arab. "Adalah penting bagi para pemikir Indonesia mendialogkan ide pemikirannya dengan diskursus yang tengah berkembang di Arab (Timur Tengah). Selain bermanfaat bagi proyek pemikirannya, pertemuan dua arus intelektual ini (Arab-Indonesia) akan lebih mampu memapankan eksistensi paradigma sarjana Indonesia", ujar Hassan Hanafi. Setengah berkelakar, Hassan Hanafi bilang, "Masak, saya hanya mengenal generasi Gus Dur dan Ulil saja."

Keprihatinan Hassan Hanafi sangat beralasan. Dalam literatur sejarah, generasi sarjana Muslim Nusantara pernah sangat mendominasi dalam hiruk-pikuk diskursus intelektual pada abad XVII dan XVIII. Beberapa bukti yang masih eksis sampai sekarang kian menegaskan kleim itu. Seperti kemunculan nomenklatur Ashhab al-Jawiyyin, keberadaan Ruwaq Jâwah di masjid al-Azhar dan beberapa manuskrip terkait Islam Nusantara di Dar al-Kutub al-Mishriyyah. Bukti fisik paling aktual adalah masih tersedianya beberapa cetakan lama karya sarjana Muslim Nusantara di Maktabah Isa dan Mushthafa Bab al-Halabiy.

Suara keprihatinan juga tak hanya muncul dari figur sekelas Hassan Hanafi. Dalam sebuah kesempatan mendata dan berbelanja buku karya sarjana Muslim Nusantara seperti yang diminta Oman Fathurrahman, penulis menerima keluh keprihatinan penjaga tua Maktabah Isa dan Mushthafa Bab al-Halabiy. Menurutnya, buku-buku yang sedang saya catat, dulunya adalah buku-buku yang pernah begitu laris. Pembelinya, selain warga Arab, juga orang (Jawa) Melayu yang tengah menuntut ilmu di pelbagai kawasan di Timur Tengah.

Tapi, kini, cetakan buku karya sarjana Muslim Nusantara itu mengenaskan. Selain tidak terawat, buku-buku tersebut sangat mungkin terancam punah karena minimnya apresiasi. Masih menurut penuturan penjaga tua tadi, hanya bilangan jari saja yang mau mengapresiasi karya-kara besar itu. Cerita keprihatinan juga disuarakan oleh salah satu petugas di Maktabah Dar al-Salam; salah satu toko buku terbesar di Mesir. Maktabah Dar al-Salam sendiri menjadi saksi bisu bagi karya Syaikh Yasin al-Fadani, juga karya Surahman Hidayat yang bertajuk al-Ta'âyusy al-Silmiy bayn al-Muslimîn wa Ghayrihim Dâkhil Dawlah Wâhidah. Di Maktabah itu, karya dua anak bangsa Indonesia pernah terpajang dan berdampingan dengan buku Ibn Arabiy, Ibn Rushd dan intelektual terkemuka lainnya.

Tapi kenyataan yang sedang terjadi nampak jauh berbeda dengan masa silam. Generasi baru sarjana Muslim Nusantara tengah mengalami apa yang oleh Mahmud Ismail diistilahkan sebagai keterputusan epistemologis. Terlepas dari tepat dan tidaknya istilah itu, faktanya, generasi baru ini mengambil jalan yang tak serupa dengan yang ditempuh pendahulunya. Sarjana Nusantara abad XVII dan XVIII menjadikan Timur (Arab) sebagai pusat cahaya intelektual yang berpijar. Sedang generasi Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, dan Muhammad Ali menempatkan Barat sebagai kiblat ilmu pengetahuan.

Tentu saja, dalam konteks pursuit of knowledge, sangat tidak tepat mempermasalahkan, kenapa Barat yang kini menjadi kiblat? Toh, Ali ibn Abi Thalib telah mewanti-wanti bahwa ilmu pengetahuan (hikmah) adalah pusaka umat Islam yang harus dipungut di manapun berada. Entah di Barat atau Timur.

Sesunggguhnya yang menjadi permasalahan krusial di sini adalah kemandegan produktivitas generasi baru sarjana dari kalangan Muslim Nusantara. Atau mungkin, kemampuan memapankan signifikansi peran serta mereka dalam percaturan intelektual global; utamanya Arab. Jika dulu, karya ulama Nusantara mendapat apresiasi mendalam dari dunia Arab, Tanah Air dan juga menjadi konsern para Islamolog Barat, maka di masa sekarang, gagasan generasi baru itu belumlah memperoleh sambutan yang senada.

Kini, generasi Ulil dan gerbong sarjana yang satu masa dengannya yang cemerlang itu, mungkin meraih simpati dari pelbagai kalangan di Barat serta di Tanah Air. Tapi pemikiran mereka belumlah menjadi bahan kajian di kawasan Arab. Beberapa artikel yang secara khusus menyorot gagasan pemikiran sarjana Nusantara angkatan Ulil sangat minim sekali. Penulis sendiri, secara tak sengaja, hanya menemukan 2 tulisan yang mengangkat konsep pemikiran sarjana Nusantara. Pertama, laporan khusus dari mingguan al-Qaherah terbitan Kairo yang menyorot tentang gerakan pembaharuan Islam. Di dalam laporan tersebut, selain menyebut Jaringan Islam Liberal (JIL), Nurcholish Madjid, Gus Dur dan aktivis JIL lainnya, juga menurunkan wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla.

Tulisan kedua saya dapatkan di situs qantara.de. Dalam rubrik Reformist Islam (al-ishlah wa al-islam), situs tersebut memuat beberapa tulisan mengenai aktivitas sarjana Nusantara dengan isu pembaharuan dan tentu saja masih menunjuk JIL sebagai nama terdepan.

Fakta inilah yang secara khusus mengundang keprihatinan Hassan Hanafi. Hassan Hanafi yang mendaku dirinya sebagai pemikir revolusioner tentu tak sepenuhnya serampangan dengan memunculkan keprihatinannya. Di masa silam, karya dan pemikiran ulama Nusantara didiskusikan dan diapresiasi secara massif. Bahkan yang membanggakan, di Maktabah Isa dan Mushthafa Bab al-Halabiy hingga kini masih tersedia beberapa karya ulama Nusantara yang berbahasa Indonesia dan ditulis dalam bahasa Arab layaknya aksara Arab Pegon yang familiar di pesantren berbasis NU.

Sayangnya fenomena tersebut belum ditemukan di masa kini. Hanya sedikit kalangan yang menoleh kepada generasi baru ulama Nusantara. Padahal, jika dikomparasikan tak ada perbedaan yang signifikan dalam aspek kualitas di antara generasi Syaikh Mahfudh al-Tarmasi, Nawawi al-Bantani dan Yasin al-Fadani dengan generasi Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie dan Abd Moqsith Ghozali. Generasi pertama piawai menulis dengan bahasa asing, yaitu Arab dan generasi kedua juga canggih menulis dalam bahasa asing, Arab dan Inggris. Kedua generasi juga sama-sama mengusung ide cemerlang pada jamannya.

Lantas, apa yang sesungguhnya menjadi pembeda? Hemat penulis, determinan pembeda itu terletak pada kemauan sarjana generasi awal dalam mendialogkan karyanya dengan khazanah intelektual Arab. Sedang ulama generasi kedua, praktis (sependek pengetahuan penulis) tidak melakukan hal yang sama. Kontak komunikasi intensif yang dulu pernah terjadi tak lagi ditemukan sekarang. Ada diskontinuitas dalam istilah Husayn Murwah atau keterputusan epistemologis dalam asumsi Mahmud Ismail.

Ketiadaan komunikasi ini nampaknya bisa dimengerti. Sebab figur macam Nawawi al-Bantani (sebelum menetap di Arab) rajin melakukan korespondensi dengan koleganya di kawasan Arab. Kalangan ini juga menjadikan Timur Tengah sebagai sumber cahaya keilmuan. Beda dengan sosok macam Ulil Abshar yang menempatkan Barat sebagai kiblat intelektual.

Mengingat kenyataan tersebut, tentunya sangat disayangkan generasi baru ulama Nusantara mengalami keterputusan emosional dengan koleganya di kawasan Arab. Hal tersebut kian miris bila kita melongok fakta bahwa beberapa bibit-bibit sarjana baru yang sedang disemai di pelbagai institusi pendidikan terkemuka di Arab, justru mencerap iklim studi yang eksklusif dan puritan. Semestinya, tunas-tunas sarjana Nusantara itu mampu memecah kebekuan dialog yang gagal dipecahkan oleh ulama generasi Ulil.

Alih-alih demikian, tunas-tunas yang sedang bermekaran itu justru lebih nyaman menjadikan kaum puritan sebagai mitra dialog. Akibatnya, bisa ditebak, kelak, Nusantara akan menjadi ladang gembur bagi kemunculan Islam intoleran seiring kembalinya tunas-tunas itu ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan bersedihlah para ulama semodel al-Khathib al-Minangkabawi. Juga menangislah anak cucu kita.

Comments

2 Responses to "Sarjana Muslim Nusantara, How Low Can You Go?"

gaweanu said... July 16, 2009 2:31 PM

wah, bagus tulisannya. Hanya saja tidak bisa digeneralisir begitu saja, tentang generasi yang lebih dekat dengan kaum 'puritan' tadi. Saya pikir, Islam yang intoleran seperti yang dibilang di sini hanya numpang lewat saja. Semua akan cair (atau malah pecah) oleh sifat intoleran tersebut. Di Jogja, beberapa pecahan sudah terlihat. Sedikit2 buat jamaah baru. Kalau tidak cocok dengan imam, mereka membuat sempalan2 baru. Ini akan terus menerus berlangsung, hingga pada saatnya nanti, akan kembali mencair dengan sendirinya.
Tentang kaum intelektual nusantara dengan kualifikasi 'global' tadi, setidaknya untuk mempertemukan pemikiran nusantara dengan arab, mungkin tidak sekarang. Kita juga harus fair, bahwa semua kembali pada paradigma masyarakat indonesia tentang arti pendidikan. Pendidikan itu sekolah, dan itu proses memperoleh ijazah. Itu yang terbawa oleh mahasiswa nusantara yang saat ini banyak sekolah di luar, terutama di arab. Ini belum termasuk lingkungan mahasiswa nusantara yang masih berkutat dengan lingkungan 'lokal' bersama teman2 sedaerah. Bahkan, ternyata di Kairo sendiri banyak asrama mahasiswa dari daerah2 di Indonesia. Aneh kan? Jelas ini tidak kondusif untuk pengembangan nalar intelektual, karena tidak ada bedanya dengan belajar di Jogja/Jakarta.
Last, para ulama nusantara yang dulu belajar sampai timur tengah, menurut saya memiliki kualifikasi intelektual yang lebih baik dari pada mahasiswa nusantara sekarang ini. Ini hal kecil, tapi jelas memiliki kontribusi yang besar dalam orientasi studi intelektual.
that's all from me, and thanks for article :)

metal kartun said... August 12, 2009 8:19 AM

Di tulisan ini cuma disebut dua kelompok ekstrem, JIL dan puritan. sama-sama berkiblat ke barat. satunya berkiblat ke barat satunya lagi berkiblat ke barat dekat hehehe..

Tp saya bukan JIL dan bukan puritan...terus masuk mana nih?

Post a Comment

Find

Public Sphere



Visitors