Kepada IM di Tanah Tuhan
I
Kalau tidak diminta untuk membaca legenda Taj Mahal oleh Mr. Abdoul Matien, saya sepertinya benar-benar telah merasa kehabisan energi untuk melanjutkan tulisan ”Bercinta Mazhab Ibn Hazm”. Penjelasan Mr. Abdoul Matien, sang pengampu berkebangsaan Kanada, membuat saya tersadar bahwa ada hutang tulisan yang belum terbayar. Hutang yang harus segera saya tunaikan sebelum waktu kian membelenggu.
Kenapa dengan Taj Mahal? Dalam banyak literatur, Taj Mahal merupakan simbol cinta dan kesetiaan. Meski sesungguhnya, jika dicermati mendalam, sejarah Taj Mahal juga menyajikan cerita tentang pengkhianatan, kelaliman dan pertumpahan darah. Merujuk kasus Taj Mahal, terlihat sekali, betapa aporisme klasik berbunyi ”love conquers all” menemukan pembenarnya. Khalil Gibran, seorang pemeluk Kristen dari Lebanon, menegaskan hal yang tak beda yang tak kalah dahsyat, ”al-hubb dam’at wa ibtisamat”.
Saya yakin, konsekuensi yang tak remeh dari cinta, membuat seorang Ibn Hazm, ulama besar yang berasal dari keluarga aristokrat yang notabene merupakan penganut mazhab literalisme taat berkenan menulis secara serius Thawq al-Hamâmah fi al-Ulfah wa al-Alâf, juga al-Akhlâq wa al-Siyar. Yang menarik, untuk ukuran masanya, kedua buku tersebut merupakan karya monumental dan inspiratif.
Pengakuan terhadap keduanya, lebih-lebih kepada Thawq al-Hamâmah, selain dari sarjana yang satu generasi dengan Ibn Hazm, juga muncul dari sarjana generasi berikutnya. Sebut saja, Thaher Makiy yang memuji Thawq al-Hamâmah sebagai karya terbaik pada Abad Pertengahan, baik di Islam atau Barat. Meski beberapa sarjana lain juga ada yang menganggap ”sepi” buku Thawq al-Hamâmah. Bahkan Mahmud Ismail, seorang penganut Marxis kukuh dari Mesir, menganggap konsep yang berada dalam buku itu adalah plagiat dari Abu Bakar ibn Dawud al-Ashfihani, pendiri mazhab Dhahiriyyah.
Agar tidak terjebak polemik yang diluncurkan Mahmud Ismail yang terkenal kontroversial, saya mencoba melakukan komparasi antara konsep ”cinta” (al-hubb) Ibn Hazm dengan beberapa gagasan cinta sarjana lain.
Sebagai pengantar, marilah kita mengenal deskripsi cinta menurut pengarang al-Fashl ini. Baginya, cinta ”bermula dari canda-tawa, berakhir dengan keseriusan, yang karena kedahsyatannya, hampir mustahil untuk mendeskripsikan hakikatnya kecuali berbarengan dengan penderitaan. Ia tidaklah terlarang menurut agama sebab hati sepenuhnya berada dalam genggaman kuasa Tuhan.”
Sarjana berdarah Persia itu benar. Ketika menyebut cinta sebagai bagian integral dari hati, maka tak ada definisi yang jâmi’ dan mâni’ bagi terma cinta. Semua sarjana yang mencoba mendefinisikan ”cinta”, pasti akan menggunakan al-ta’rîf bi al-rasm. Karena memakai al-ta’rîf bi al-rasm, kebanyakan lebih menempatkan pengalaman personal sebagai modal dalam mendeskripsikan cinta. Untuk lebih memudahkan memahami hakikat cinta, Ibn Hazm menyebut cinta sebagai saling kasih dan ketertarikan di antara insan yang muncul dalam relung batin masing-masing.
Kesadaran akan betapa rumitnya mendefinisikan ”cinta” juga muncul dalam tradisi Barat. Beberapa nama tenar seperti Bertrand Russell dan Gottfried Leibniz pun memahami benar kehampir-mustahilan mendedahkan istilah cinta. Kedua intelektual raksasa ini akhirnya pasrah dengan lebih memakai model al-ta’rîf bi al-rasm.
Tak terkecuali dengan Thawq al-Hamâmah, buku yang Ibn Hazm menuliskannya saat berusia 28 tahun, pun sesungguhnya merepresentasikan pengalaman personal penulisnya. Sebagai remaja yang nyaris seluruh masa mudanya dipenuhi oleh gelimang harta, Ibn Hazm tidak memilih terjun dalam dua kutub yang saling bertentangan; tidak di kutub hedonisme-permisifisme ataupun kutub asketisme. Di sini, Ibn Hazm telah memberikan teladan kekonsistenan perilaku yang luar biasa bagi kaum muda. Yang mengagumkan, Ibn Hazm mempertahankan komitmennya hingga masa tua sebagaimana terpantul dari bukunya, al-Akhlâq wa al-Siyar yang ia tulis pada usia 70 tahun.
Ini yang belum bisa kita contoh dari Ibn Hazm. Teramat banyak dari kita yang ”gagal” menggapai keinsyafan semenjak masa remaja. Seolah, keinsyafan senantiasa linear dengan masa tua; pertobatan sebelum kematian.
Ketika menulis Thawq al-Hamâmah, terlihat sekali, Ibn Hazm tengah mengkompromikan gejolak mudanya dengan ”kekangan” kredo-kredo agama. Sikap tersebut begitu kentara ketika ia menyebut cinta kepada Sang Pencipta sebagai konsep cinta ideal. Cinta ideal dalam perspektif Ibn Hazm bukanlah model cinta ala roman picisan atau serupa kisah cinta yang melegenda. Ini yang membedakannya dengan sarjana-sarjana lain, terutama dari Barat.
Meski menempatkan cinta kepada Tuhan sebagai sesuatu yang agung, Ibn Hazm tidak lantas menutup mata beberapa fenomena lain dalam dunia cinta. Latar belakang pendidikan yang luas, dari sastra, fikih hingga filsafat, membuatnya mampu bersikap arif dan bijak. Ia paham benar, fenomena cinta juga mengenalkannya pada jenis cinta lain, seperti cinta di antara sesama saudara dam keluarga, dan tentu saja cinta sepasang kekasih yang berangkat dari saling ketertarikan jiwa.
Sepintas, gagasan klasifikasi cinta ala Ibn Hazm terlihat sederhana. Namun sesungguhnya, model klasifikasi tersebut begitu impresif, karena pada beberapa abad berikutnya, dipakai secara merata dalam dunia psikologi –disiplin ilmu yang salah satu isu utama kajiannya adalah mengenai cinta.
Dalam nomenklatur psikologi, kita mengenal istilah ”impersonal love”, sebuah terma yang merujuk kepada cinta terhadap ”sesuatu yang penting” dalam diri manusia dan komitmen yang paripurna kepadanya. Disinilah ide ”cinta kepada Tuhan” milik Ibn Hazm menemukan relevansinya. Sebagai representasi Tuhan (baca: khalifat Allah) di alam semesta, kewajiban asasi manusia adalah melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi. Kecintaan kita kepada ”ubudiyyah” atau sifat kehambaan kita dan komitmen yang sempurna kepadanya adalah manifestasi konsep al-mahabbat ila Allah dalam perspektif Ibn Hazm atau pengejawantahan sesuatu yang oleh sarjana Barat disebut sebagai ”impersonal love”.
Istilah kedua yang biasa dipakai psikolog Barat adalah ”interpersonal love”. Terma ini menunjuk kepada perasaan saling mengasihi yang biasanya timbul di antara manusia, baik dalam kerangka pertemanan, kekerabatan ataupun sepasang kekasih. Merujuk kepada definisinya, Ibn Hazm pun sudah menggariskan tentang keberadaan konsep interpersonal love dalam bukunya yang fenomenal, Thawq al-Hamâmah.
Fakta tersebut sudah sepantasnya menyadarkan kita kembali bahwa tradisi kesarjanaan umat Islam demikian melimpah. Sewajarnya, apresiasi terhadap tradisi harus terus berjalan dengan sepenuh hati tanpa mempunyai keinginan untuk berbuat sewenang-wenang terhadapnya. Kita sudah berlaku dzalim terhadap Ibn Rushd dengan hanya mengapresiasi Bidayat al-Mujtahid dan melupakan al-Kasyf ’an Manahaj al-Adillah. Sikap dzalim kita lakukan kepada al-Ghazali dengan memahaminya hanya sebagai penulis al-Mustashfa dan Ihya ’Ulumiddin dan mengabaikan karya lainnya semisal Maqashid al-Falsafah atau al-Qisthas al-Mustaqim.
II
Saya kerap dirisaukan oleh pertanyaan dalam relung batin, kenapa dengan gegap gempita kita bisa terbuka terhadap Ibn Hazm dengan menerima al-Muhalla, al-Ihkam dan al-Fishal? Sedang untuk sekadar menjenguk Thawq al-Hamâmah, kita merasa berat. Jika boleh saya sebut, ini merupakan ambivalensi yang sayangnya kerap diimani oleh banyak kalangan muslim.
Adalah benar apa yang disampaikan oleh Zakariya Ibrahim. Menurutnya, upaya memahami Ibn Hazm secara utuh sama halnya dengan mengenal Ibn Hazm sebagai seorang filosof, ahli fikih, pakar kalam, sejarawan dan psikolog sekaligus. Apa yang dikehendaki dengan Ibn Hazm sebagai seorang psikolog, salah satunya adalah kepiwaian Ibn Hazm dalam mendedahkan fenomena cinta dalam bentuknya yang kontekstual. Bukan sebagai konsep imajiner yang kerap dipunyai oleh para sastrawan dengan karya-karya romannya.
Sebagai seorang psikolog, kalau kita sepakat dengan istilah yang saya pinjam dari Zakariya Ibrahim, Ibn Hazm sadar sepenuhnya bahwa cinta tidaklah datang tiba-tiba dan muncul serta-merta. Perasaan cinta dalam jiwa manusia, hemat Ibn Hazm, dalam kemunculannya disertai dengan motif dan penyebab tertentu (illat). Jika demikian, maka eksistensi cinta dalam diri manusia dan kualitasnya tergantung kepada sejauhmana illat itu melekat.
Berpegang kepada tesis Ibn Hazm, bukan mustahil ada cinta yang berdasar atas keuntungan materi, cinta yang berangkat dari nafsu birahi, cinta bermotifkan kecantikan atau ketampanan dan cinta berlandaskan kesamaan paradigma berpikir dan menjalani kehidupan. Dalam kebudayaan dan ”tradisi” masyarakat sekarang, kita terbiasa mendengar jawaban ”karena dia cantik atau tampan”, ”karena dia kaya atau baik atau sederhana” dari pertanyaan, ”kenapa kamu mencintainya?”. Fakta kekinian tersebut sudah dijelaskan jauh hari oleh Ibn Hazm, tepatnya pada abad XI.
Di antara sekian banyak motif kemunculan cinta, menurut Ibn Hazm, motif yang paling kuat daya pancarnya adalah ketika cinta muncul dari kesepaduan perasaan dan jiwa. Cinta yang menembus batas ruang dan waktu; abai terhadap hal-hal kesementaraan seperti baik-buruk dan kaya-miskin. Ini yang mungkin oleh kita dipersepsikan sebagai ”cinta sejati”. Satu model cinta yang baru akan padam ketika maut menjelang.
Gagasan brilian Ibn Hazm mengenai kualitas eksistensi cinta sepertinya mengilhami sarjana Barat untuk melahirkan teori yang senada. Saya memang tidak mempunyai bukti otentik bahwa ide Ibn Hazm ini menjadi sumber inspirasi bagi sarjana Barat. Tapi paling tidak, asumsi ini tak terasa sebagai klaim buta jika menimbang bahwa buku Thawq al-Hamâmah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada abad XIX. Lebih-lebih, pada hakikatnya, peradaban Barat mempunyai hutang kepada Islam meski kerap diingkari.
Sebagian lebih nyaman menyebutnya sebagai ”kemiripan yang kebetulan” ketimbang menamakannya sebagai hutang atau keterpengaruhan Barat atas Islam. Tapi tentu saja hal itu mengganjal nalar sehat kita tersebab, kenapa ada sedemikian banyak ”kemiripan yang tak sengaja”? Seperti apakah merupakan ketidaksengajaan bila konsep Sein dan Dasein-nya Martin Heidegger nampak serupa dan sebangun dengan terma Mahiyah dan Haqiqah kepunyaan teolog Muslim semisal al-Taftazani dan al-Ijiy?
Kembali kepada Ibn Hazm sebagai inspirasi, nyatanya beberapa sarjana Barat juga mengajukan tesis yang tak beda jauh dengan konsep Ibn Hazm mengenai kualitas eksistensi cinta. Dalam tradisi keilmuan di Barat, dunia psikologi mengenal nama Robert Jeffrey Sternberg dengan Triangular Theory of Love.
Bagi Sternberg, setidaknya dalam pola ”interpersonal love” ada 3 hal determinan yang dapat dipakai sebagai parameter kualitas eksistensi cinta. Ketiga hal tersebut adalah kedekatan (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment).[]
Tulisan yg cukup bagus.
Jadi penasaran, semakin penasaran lagi ketika sumber tilisan/rujukan/referensi tidak dapat saya lihat.
Trims, untuk tulisan yang penuh talenta ini.