Menjadi Muslim-Humanis?

:: Catatan untuk kawan di an-Nidham

Seorang santri menanyakan kepada saya pertanyaan yang tak lazimnya muncul dari dunia pesantren. Alih-alih mempersoalkan kaidah gramatika bahasa Arab, kepelikan balaghah dan kerumitan fikih, sang santri justru menanyakan sejauh mana hubungan antara Muslim dan humanisme. Meski terkesan fikih sentris sekilas, lontaran ini sesungguhnya kental dengan nilai filosofis.

Jika ditakwil secara mendalam, ujaran santri tersebut adalah serupa gugatan implisit, kenapa seorang Muslim tak berbanding linear dengan aspek kemanusiaannya (humanis). Memakai bahasa yang tegas, semestinya ketaatan sebagai Muslim tak menghalanginya sebagai sosok yang Humanis.

Mulanya, saya teringat dengan buku berat Mohamed Arkoun, pemikir prolifik Islam yang menetap di Perancis, yang berjudul Naz’ah al-Ansanah fi al-Fikr al-‘Arabiy; Jayl Miskawayh wa al-Tawhidiy. Dengan tanpa merendahkan kemampuan sang santri, saya berpikir ulang untuk merujuk Arkoun. Hal ini saya tempuh, karena Arkoun, di banyak pesantren di Indonesia adalah salah satu ikon Islam Liberal yang pasti sesat dan dilaknat Tuhan. Meski tentu saja, label tersebut belum tentu berdasar atas pembacaan terhadap pemikiran Arkoun secara utuh.

Dalam kondisi semacam itu, saya bersyukur pernah nyantri di Al-Azhar dan menimba ilmu kepada sosok Dr. Abdoul Mu’thi Bayoumi. Kepada sosok yang menganjurkan untuk mengkaji Tahdzîb al-Akhlâq ini, saya banyak merujuk, walau akhirnya, jawaban itu pun menemukan titik temunya dengan ide-ide Arkoun. Selain kepada Dr. Bayoumi, Dr. Sami Afifi Hijazi juga mempunyai andil yang begitu besar dengan mengenalkan sosok Abu Hayyan al-Tawhidi melalui al-Imta’ wa al-Mu’anasah. Dan al-Tawhidi ini, selain Ibn Miskawayh, yang menjadi bidikan utama Arkoun dalam bukunya tersebut.

Lantas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “humanis” dalam pertanyaan di atas? Terma humanis, atau humanisme (sebagai sebuah mazhab) dalam pengertiannya yang definitif, sesungguhnya bukan merupakan istilah Islam. Ia adalah sebuah istilah yang muncul dalam lanskap diskursus filsafat Barat. Dalam pengertian yang sederhana, humanisme adalah "satu sistem pemikiran yang berdasarkan pada pelbagai nilai, karakteristik, dan tindak-tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun".

Seperti tergambar dalam sejarah peradaban Barat, pasca Era Kegelapan, berlanjut ke masa Pertengahan, Barat menemukan jati dirinya pada saat Abad Pencerahan. Dalam masa Pencerahan, Barat mengalami pergeseran yang begitu drastis dalam segala tatanan aspek kehidupan. Dalam kehidupan teologis, agama tersungkur dan tersingkir setelah sebelumnya memiliki dominasi yang absolut. Di wilayah publik, wanita memperoleh kebebasan yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Pencapaian-pencapaian sains menerima pengakuan luas setelah sebelumnya divonis sebagai kesesatan atau heresi.

Masa Pencerahan adalah masa di mana kontrol semesta menjadi kuasa manusia menggantikan kontrol Tuhan yang dimonopoli oleh kalangan agamawan. Nalar adalah kunci sekaligus penentu. Lantas, gairah kebebasan di Masa Pencerahan menyemaikan sebuah pandangan hidup (ideologi) baru bernama mazhab Humanisme. Menilik esensinya, mazhab ini sesungguhnya tengah memproyeksikan kehidupan baru yang bertumpu dan berpihak pada manusia dan kemanusian tanpa terpasung dogma serta kredo-kredo yang telah dimanipulasi.

Tragisnya, humanisme, dalam perjalanannya malah menjadi sarana balas dendam terhadap agama. Humanisme mengambil posisi bermusuhan dengan agama dengan mengidentikkan dirinya berbanding lurus dengan ateisme. Adalah tidak sempurna ke-humanisme-an seseorang jika masih menyimpan keimanan terhadap kekuatan supranatural (Tuhan). Buku karya Corliss Lamont, The Philosophy of Humanism dengan tegas memotret fenomena ini.

Yang menarik, gejala-gejala humanisme ternyata bukan milik masyarakat Barat semata. Geliat humanisme juga muncul di Timur (Islam) yang justru lebih dulu menggapai masa kejayaan (‘ashr al-izdihar). Bagaimanakah sesungguhnya humanisme ala Islam ini?

Saya sengaja tidak hendak menengok masa Nabi tersebab dalam konteks ini kita tengah memperbincangkan humanisme dalam pemaknaan sui generis. Terlebih lagi, sudah menjadi pengetahuan bersama, kehadiran Islam mempunyai tujuan pokok melakukan perbaikan terhadap kehidupan manusia dengan menempatkanya dalam kondisi berimbang antara kehidupan dunia atau akhirat. Keseimbangan dalam menyikapi dua dunia begitu jelas muncul dalam al-Qur’an yang diimplementasikan secara ideal oleh Nabi. Al-Qur’an menyatakan, Laqad Karramnâ Banî Âdam dan di bagian lain, Laqad Khalaqna al-Insân fî Ahsan al-Taqwîm.

Terinspirasi ayat-ayat al-Qur’an tersebut dan manifestasinya dalam figur Nabi, banyak sarjana Islam mencoba menerjemahkannya sebagai sebuah paradigma baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Salah satu pioner yang jarang disebut adalah Abu Nashr al-Farabi, seorang sarjana Muslim terkemuka yang mendapat julukan al-Mu’allim al-Tsani. Menurut tesis al-Farabi, terma manusia (al-Insan) sesungguhnya mengandung dua dimensi dalam pemaknaannya. Pertama, dimensi ketuhanan (al-bu’d al-ilahiy), yang kedua, al-bu’d al-kawni (dimensi kosmologi). Oleh kalangan pesantren, kedua aspek ini menemukan padanannya dalam dua frasa popular, habl min al-allah wa habl min al-nas.

Al-bu’d al-ilahiy, dalam asumsi al-Farabi, menjelaskan sejauhmana keberhasilan manusia dalam bersikap adil ketika bermunajat kepada Tuhan. Sedang dimensi kosmologi lebih menyorot kepada relasi manusia dengan alam kosmos serta pertanggungjawabannya. Menariknya, al-Farabi dengan tegas menjelaskan bahwa manusia berada di posisi terpenting dan terhormat dalam kosmos. Jauh sebelum Eropa menembangkan humanisme yang dengannya hendak menempatkan manusia sebagai penentu kebijakan kosmos, tanpa bayang-bayang ortodoksi agamawan yang tiran, al-Farabi sudah menggariskan, jika manusia merupakan “pengatur” kosmos. Pernyataan al-Farabi ini tentu tidak bermaksud menegasikan fakta bahwa Tuhanlah yang sesungguhnya berada di belakang “kehendak” manusia untuk “mengatur” kosmos.

Bagi al-Farabi, manusia mempunyai peran asasi dalam kosmos dan oleh karenanya, manusia tidak boleh dipisahkan dari alam fisika sebagaimana tidak boleh mencampakkan alam metafisika. Al-Farabi paham benar, manusia adalah homo religiosa sekaligus homo economicus.

Tak berselang lama, dunia Islam memunculkan nama tersohor yang juga menawarkan konsep humanisme. Kalangan akademisi mengakrabinya dengan Ibn Miskawayh dengan karya seminalnya, Tahdzib al-Akhlaq. Meski sesungguhnya, tokoh ini pun menulis beberapa karya bagus lainnya, semisal, al-Hikmah al-Khalidah, Tajarub al-Umam, al-Fawz al-Ashghar dan al-Fawz al-Akbar.

Meski banyak terpengaruh ide-ide humanisme al-Farabi, gagasan sarjana yang bernama lengkap Abu ‘Ali Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub Miskawayh relatif lebih maju. Baginya, rasio (nalar) adalah yang pertama.

Jika al-Farabi “enggan” menempatkan nalar sebagai supremasi, tidak begitu halnya dengan Ibn Miskawayh. Menurut murid Abu Bakr al-Razi ini, akal (baca: nalar) manusia merupakan pengatur dan karenanya, nalar manusia tidak bisa tunduk kepada selainnya. Kebebasan dan kemandirian akal, dalam perspektif Ibn Miskawayh, bahkan melangkahi kredo dan dogma agama. Meski agama menjadi inferior dihadapan nalar sebagaimana asumsi Ibn Miskawayh, namun hal ini tak mendorongnya mengambil pilihan zindiq (ateis). Menginduk kepada teori Ibn Miskawayh, kemandirian akal seyogianya mendorong manusia sampai kepada derajat yang di dalam tasawuf disebut sebagai kasyf. Akal, masih menurut Ibn Miskawayh, adalah bekal bagi kalangan awam untuk meninggikan kualitas kemanusiaannya sehingga mampu merengkuh apa yang disebutnya sebagai “hakikat”.

Fakta tersebut setidaknya membuktikan bahwa gelombang humanisme model Barat, sesungguhnya, di beberapa abad sebelumnya, sudah ditawarkan oleh Ibn Miskawayh. Hemat penulis, konsep humanisme ala Ibn Miskawayh jauh lebih dahsyat dibandingkan humanisme Barat. Sebab, humanisme Barat terlahir sebagai sebuah respon dan anti tesa terhadap perlakuan lalim dan tiran agama. Sedang humanisme Ibn Miskawayh lebih sebagai bukti kematangan intelektual dan kesadaran pengalaman spiritual.

Kembali ke pertanyaan di awal, menjadi Muslim-Humanis adalah sesuatu yang sangat mungkin, tidak mesti berasosiasi negatif dan pasti merujuk kepada Barat. Dunia Islam sudah mewariskannya dalam bentuk yang beragam. Keinsyafan kita sebagai Muslim akan mendorong kita untuk menggali dan meneladani khazanah sendiri.[]

Tipar - Sukabumi, 03.24 a.m, Jumat dini hari, 231009

Comments

0 Responses to "Menjadi Muslim-Humanis?"

Post a Comment

Find

Public Sphere



Visitors