biar ini tak menjadi sebuah kesalahpahaman. atau kegundahan yang diam-diam. maka, beberapa aksara mesti tertuliskan. sebagai saksi bagi pertobatan ataukah umpatan. tetiba, memang aku menjadi takut kehilangan. kamu dan atau hari-hari yang sedang dan telah menjelma kenangan. tak wajar bukan?
engkau memang tak memungutnya. atau menyimpannya dalam lembaran kehidupan. tak juga menembangkannya dalam nyanyian serta tak menuliskannya dalam catatan. engkau membiarkannya serupa daun kering yang merana. menua, rapuh, jatuh dan tersia-sia.
terbawa entah angin, hujan atau bahkan terlupa. tapi aku. menjalinnya sebagai satu cerita. menyalinnya dalam ingatan tajam. tidak untuk anak, cucu atau saudara. tapi
sekedar kisah hari tua. menyusurinya dalam sorotan senja yang temaram.
A nothing-ness
“Lord, make me an instrument of your peace; where there is hatred, let me sow love; where there is injury, pardon; where there is doubt, faith; where there is despair, hope; where there is darkness, light; and where there is sadness, joy.” - St. Francis of Assisi-
Post a Comment